"Pro Investasi" Ala Boyolali


Kabupaten Boyolali terus meningkatkan diri. Dengan tangan dingin Seno Samodro terus menggeliat, bertransformasi menjadi Kabupaten yang maju.

Sejak menjabat sebagai Bupati pada Tahun 2010, Seno melakukan terobosan-terobosan, seperti reformasi birokrasi, perizinan terpadu, transparansi dan kemudahan mengurus investasi. Terobosan yang dilakukan Seno Samodro terasa keberhasilannya. Pertumbuhan ekonomi di Kota Susu ini mencapai 5,6 persen. Pada Tahun 2015, untuk keempat kalinya Kabupaten Boyolali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan terkait Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2014.

Seno menyebut ada beberapa indikator yang menjadi perolehan WTP, antara lain pencapaian grade 96 persen untuk tindak lanjut hasil BPK, yang setiap laporan hasil pemeriksaan dari BPK selalu ditindak lanjuti dengan baik. Selain itu,  pengelolaan aset daerah dinilai paling rapi. Tidak ada aset yang tercecer atau tidak tercatat dalam Pembukuan Keuangan Daerah.

Selain WTP, berkat komitmen yang kuat dari Bupati Boyolali terhadap Boyolali Pro Investasi, maka beberapa prestasi yang telah diraih sebagai berikut :

  1. Penghargaan dari Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia kepada Bupati Boyolali sebagai Nominator Terpilih Inovative Government Award   (Penghargaan Pemerintah Daerah Inovatif Tahun 2013);
  2. Penghargaan Investment Award sebagai Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Bidang Penanaman Modal Terbaik Kabupaten/Kota Terbaik Tahun 2014 dari Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia.
  3. Terpilih sebagai Nominator Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2015  dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. BPMP2T Kabupaten Boyolali berada pada urutan 65 dari 99 besar Tingkat Nasional, bersaing dengan 1.189 peseerta lomba kompetisi Inovasi Pelayanan Publik yang berasal dari Kabupaten/Kota/Provinsi/Kementrian dan Lembaga Negara lainnya.

"Boyolali dinilai memberikan kemudahan-kemudahan kepada investor untuk menanamkan modal di sini," terang Seno.

Seno yakin bahwa Boyolali bisa menjadi Kabupaten yang maju dan menyejahterakan rakyat. Berbekal keyakinan itu, ia pancangkan visi Kabupaten Boyolali, "Kabupaten Boyolali Yang Lebih Sejahtera, Berdaya Saing dan Pro Investasi"

Selandia Baru-nya Jawa

Boyolali punya julukan baru, "New Zealand van Java" . Boyolali dan New Zealand (Selandia Baru) punya kesamaan, yakni sebagai produsen susu sapi. Selandia baru dikenal sebagai negara penghasil susu dan daging sapi di dunia. Sementara itu, di Boyolali merupakan produsen susu terbesar di pulau Jawa.

Selain itu, Boyolali merupakan salah satu pemasok daging sapi lokal di Jawa. di Kecamatan Ampel, banyak ditemui rumah pemotongan hewan dan pengolahan abon sapi. Oleh karena itu, sapi menjadi ikon fauna lokal Boyolali.

Kualitas susu maupun daging sapi didukung kesuburan tanahnya. Keberadaan Gunung Merapi dan Merbabu menjadikan kondisi tanah di Boyolali sangat subur. Tak heran, Boyolali menjadi salah satu lumbung pangan di Jawa Tengah.

Gunung Merapi dan Merbabu di Boyolali juga mendukung sektor pariwisata di Boyolali. Kedua Gunung ini merupakan favorit para pendaki. Sementara itu, jalur pendakian untuk mencapai puncak Merapi atau Merbabu adalah melalui jalur Selo. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Boyolali bekerjasama dengan Taman Nasional Gunung Merapi dan Merbabu  mengembangkan kawasan agrowisata terpadu seluas 55,5 Hektare.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Boyolali juga mengembangkan kawasan wisata air Tlatar. Kawan wisata air seluas 15 hektare ini terletak di desa Kebonbimo, Kecamatan Boyolali. Di kawasan wisata ini terdapat pula lapangan olahraga Woodball.

Selain potensi peternakan, pertanian dan pariwisata, Kabupaten Boyolali menyimpan ragam potensi yang siap dikembangkan. Meliputi kawasan industri, perkebunan, peternakan dan perikanan serta infrastruktur.

Reformasi Birokrasi untuk Pro Investasi

Investasi di Kabupaten Boyolali, menurut Kepala BPMP2T Kabupaten Boyolali, EL Rusdijanti HL, sampai dengan Triwulan I Tahun  2015, total nilai investasi di Boyolali mencapai Rp. 4.481.923.589.958,- dan US$ 55.275.500. Jumlah investasi tersebut disumbang oleh Investor Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp. 4.481.226.805.358,-. dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp. 696.784.600,- dan US$ 55.275.500.

Investasi di Boyolali sebagian besar bergerak di bidang tekstil yang dikembangkan di wilayah Kecamatan Sambi dan Klego. Rusdijanti menjelaskan, pilihan investasi di Boyolali dipengaruhi banyak faktor salah satunya adalah lokasi yang strategis dijalur utama Jawa Tengah. Dengan begitu, alur distribusi barang dari tempat produksi kepada konsumen menjadi mudah dan lancar.

Peningkatan investasi di Boyolali tidak lepas dari berbagai terobosan yang dilakukan Seno, salah satunya kemudahan perizinan investasi. Hal tersebut memberikan kepastian kepada para investor untuk mendukung kemajuan Boyolali. Proses penanaman modal yang seharusnya melalui beberapa tahapan, dipangkas.

Pemerintah Kabupaten Boyolali juga memberikan kemudahan lain. Dari 46 perizinan, hanya 2 yang dikenai retribusi, yakni Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Izin Gangguan atau HO, "Selain itu gratis"  terang Seno. Disamping itu Pemerintah Kabupaten Boyolali juga memberikan dukungan infrastruktur berupa perbaikan jalan diseluruh Kabupaten Boyolali.

Pada Tahun 2015, BPMP2T Kabupaten Boyolali telah menyiapkan Sistem Perizinan Secara Online. Melalui mekanisme online diharapkan bisa meningkatkan kualitas Pelayanan Perizinan Terpadu. Dirintisnya pelayanan perizinan online ini juga dinilai meminimalisasi pertemuan antara calon investor dengan pejabat terkait yang dianggap berpotensi menimbulkan pungutan liar, praktik suap, atau tawar menawar di luar kewenangan.

"Pada intinya konsep pembangunan saya adalah pro investasi yang juga pro rakyat. Boyolali yang pro investasi diharapkan bisa membuka lapangan pekerjaan di wilayah ini dengan penyerapan utama tenaga kerja dari masyarakat Boyolali sendiri," tegasnya.

Perbaikan Infrastruktur

Untuk itulah, peran infrastruktur dalam pembangunan Boyolali sangat penting.  Pada Tahun 2014, Pemerintah Kabupaten Boyolali telah mengalokasikan dana sebesar Rp. 154,98 miliar untuk pengembangan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur diprioritaskan untuk jembatan dan jalan sebesar Rp. 78,87 miliar, saluran drainase atau gorong-gorong sebesar Rp.6,7 miliar, Talud sebesar Rp.4,04 miliar dan rehabilitasi jalan dan jembatan sebesar Rp. 11,66 miliar

Ketersediaan infrastruktur sangat mendukung aktivitas perekonomian rakyat. Alur distribusi bahan baku dan distribusi hasil produksi tentu dipengaruhi oleh infrastruktur baik jalan maupun jembatan. Selain itu, di Kabupaten Boyolali, infrastruktur juga penting untuk mitigasi bencana, khususnya untuk wilayah lereng Merapi.

Dalam rangka kegiatan tanggap darurat yakni untuk jalur evakuasi, Pemkab Boyolali bekerjasama dengan Pemerintah Pusat membangun 5 jembatan gantung di Kecamatan Selo dengan total biaya Rp. 36,14 miliar. Di kawasan lereng Merapi, Pemkab Boyolali juga membangun bendungan sebagai sumber air di kala musim kemarau sekaligus kawasan wisata.

Belum lama ini, Pemkab Boyolali menjalin kerjasama dengan pengusaha dan Pemerintah Tiongkok. Bentuk kerjasama ekonomi yang dijalin juga berdampak positif dalam pembangunan infrastruktur. Sebab, untuk mendukung kerjasama tersebut, Pemerintah Tiongkok bersedia mendukung jalur pembangunan rel kereta api dan pengembangan Bandara Adi Soemarmo sebagai Bandara Internasional.

"Baru-baru ini Presiden Jokowi memerintahkan agar Bandara Adi Soemarmo dikembangkan menjadi 2 runaway agar berskala International. Pas sekali karena ada investor Beijing yang melirik itu" terang Seno.

 

Sumber : Pasugatan Koran Kompas | Edisi Senin, 13 Juli 2015 | Re-edit oleh Zulia Purwanti ; dipos kan oleh : Iksan Kusuma

Copyright © 2017 DPMPTSP Pemerintah Kabupaten Boyolali